Pengalaman
yang buruk pasti pernah terjadi pada setiap individu. Pada batas yang wajar,
pengalaman buruk tersebut akan dimaknai sebagai bagian dari pengalaman yang
mungkin menghasilkan tekanan psikologis, tetapi tidak membawa dampak buruk
berkepanjangan.
Namun,
ketika sebuah peristiwa buruk terjadi dengan intensitas yang begitu kuat hingga
meninggalkan tekanan atau luka psikologis yang signifikan dalam diri seseorang,
kondisi ini dapat disebut sebagai trauma.
Dalam
dunia psikologi klinis dan psikiatri, trauma yang bersifat gangguan klinis
memiliki diagnosis yang dikenal dengan sebutan “Post-traumatic Stress Disorder”.
Identik
dengan suatu pengalaman buruk, trauma kemudian diartikan sebagai perasaan tidak
nyaman yang muncul ketika mengalami pengalaman yang sama atau mengingat
pengalaman tersebut.
Gejala
trauma dapat muncul dalam beberapa bentuk, namun yang paling sering dilaporkan
adalah dalam bentuk ingatan dan mimpi buruk berhubungan dengan pengalaman
traumatis tersebut. Kemunculan hal yang
bersifat traumatis akan disertai dengan munculnya keadaan fisik dan psikologis
yang tidak biasa. Seperti tiba-tiba ada rasa takut, perasaan yang tidak tenang
dan keringat dingin mulai keluar, hingga perasaan ketakutan yang diimplementasikan
dalam bentuk tangisan.
Kemunculan
tanda-tanda dari trauma dalam waktu lebih dari satu bulan berturu-turut dalam
intensitas yang tinggi harus diwaspadai dan memerlukan penanganan yang serius.
Biasanya
orang yang ingin menghindari trauma akan berusaha mati-matian dengan
menghindari hal yang membuat mereka trauma agar bisa merasa nyaman. Walau
awalnya memang masalah yang mereka hadapi seakan-akan sudah hilang dan tidak
pernah muncul lagi, namun sebenarnya cara ini hanya memberikan pilihan kepada
mereka untuk menghindari hal yang membuat mereka trauma bersifat sementara.
Oleh karena itu, sebaiknya cara seperti ini perlu dikesampingkan.
Untuk
solusi yang mungkin tepat untuk menanganinya adalah dengan sebuah pendekatan
terapi yang disebut “exposure therapy”. Seperti tergambar dari namanya, pada
prinsipnya, dalam pendekatan ini, seseorang yang trauma akan dihadapkan pada
objek atau pengalaman traumatisnya secara perlahan dan bertahap, serta
diajarkan cara coping atau mengendalikan gejala-gejala trauma yang muncul saat
dihadapkan dengan objek atau pengalaman tadi.
Hal
yang bersifat sederhana namun terkadang orang tidak menyadarinya, yaitu semisal
dengan membuat tubuh rileks, ketika banayak masalah yang muncul, maka tarik
nafas panjang dan keluarkan. Dengan cara seperti itu, maka sedikit banyak akan
memberikan perasaan yang berbeda dan mencoba berdamai dengan trauma tersebut.
Ketika
masalah yang ada muncul secara bersamaan dan ditambah pula dengan trauma yang
mengguncang ketentraman hati, maka disaat seperti itu terkadang seseorang tidak
mampu menghadapinya sendirian. Pada saat ini dukungan orang terdekat memiliki
peranan yang penting untuk menenangkan perasaan orang yang sedang mengalami
trauma. cara ini teruji ampuh untuk membuat trauma yang dialami berkurang
perlahan-lahan.
Menangani
trauma memang bukan perkara yang mudah dan selalu bisa diselaisaikan dalam
waktu yang relatif singkat. Yang perlu diingat bahwa ketika menghadapi trauma
adalah dengan menghindari masalah tersebut. Karena cara ini hanya bersifat
sementara dan bisa membuat seseorang menjauhi hal yang sebenarnya tidak terkait
dalam trauma itu.
Ketika
berhadapan dengan trauma, ingatlah bahwa upaya penanganan mandiri dan dukungan
orang-orang terdekat selalu dapat menjadi langkah awal yang dilakukan. Saat
cara-cara tersebut dirasa belum cukup, jangan ragu untuk menemui psikolog
klinis demi memperoleh kajian komprehensif mengenai trauma yang sedang dialami
serta cara yang paling strategis untuk menanganinya.
Lihat juga artikel fakta unik dari biji semangka mediajurnalkesehatan.blogspot.com/2015/06/5-manfaat-biji-semangka-yang-perlu.html
Lihat juga artikel fakta unik dari biji semangka mediajurnalkesehatan.blogspot.com/2015/06/5-manfaat-biji-semangka-yang-perlu.html

0 komentar:
Post a Comment